AJARAN TASAWUF ABU YAZID AL-BUSTHAMI

Ahmad Mukhlasin, A. Adibudin Al Halim

Abstract


Lintasan sejarah Islam yang berakar pada tradisi asketisme tidak bisa dipisahkan dengan ajaran yang disebut tasawuf. Terlepas dari pembagian aliran tasawuf yang dikemukakan oleh Goldziher, tidak bisa disangkali bahwa Nabi dan para sahabatnya telah sedari awal kelahiran Islam mencontohkan sebuah gaya hidup dan perilaku zuhud. kezuhudan atau asketisme adalah hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, di mana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan dunia itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya.

Para asketis (zahid) dalam masyarakat Islam awal di kehidupan sehari-harinya adalah orang-orang yang bekerja, memiliki jabatan dalam pemerintahan, memiliki usaha, bahkan terkadang merupakan orang kaya. Ajaran asketisme ini pada gilirannya berkembang menjadi ajaran-ajaran yang dirumuskan dalam teori-teori dan masyarakat muslim mulai mengenal nama tasawuf yang dimaknai sebagai moralitas-moralitas berdasarkan Islam. Tapi meskipun begitu sekurang-kurangnya pada akhir abad ketiga Hijriah kita bisa melihat peralihan konkrit pada asketisme Islam, dan para asketis (zâhid) pada masa itu tidak lagi dikenal dengan gelar ‘az-zâhid’ tapi sudah dikenal dengan gelar ‘ash-shûfi’. Mereka pun cenderung membicarakan konsep-konsep yang tidak dikenal di masa sebelumnya, seperti tentang moral, jiwa, tingkah laku, pembatasan arah yang harus ditempuh seorang sâlik, maqamât, hâl, makrifat dan metode-metodenya, tauhid, fanâ`, baqâ`, ittihâd, dan hulûl. Bukan hanya istilah-istilah tasawuf baru yang diperkenal pada fase perkembangan ini, namun para sufi juga menyusun prinsip-prinsip teoritis dari semua konsepnya itu.

Abu Yazid al-Busthami adalah seorang sufi yang menghadirkan konsep baru di tengah khazanah sufisme dan mistisme Islam, yaitu ajaran fanâ`, baqâ`, dan ittihâd. Ia juga menjadi tokoh pembatas antara masa asketisme (kezuhudan) dan masa tasawuf teoritis (mistisme). Konsep ajaran fanâ` adalah keadaan lenyapnya kesadaran seorang sufi akan dirinya sendiri dan alam sekitarnya yang diperoleh dengan jalan membersihkan diri dari akhlak-akhlak tercela dan syahwat-syahwat dunia. Setelah mencapai fase fanâ` seorang sufi akan tiba di kekekalan sifat-sifat ketuhanan atau disebut baqâ`.

Keywords


Zuhud, Tasawuf, Sufi, Abu Yazid Al-Busthami.

Full Text:

PDF

References


Al-Aththar, Fariduddin, Warisan Para Auliya, Terj. Anas Mahyudin, Bandung: Pustaka, 1983

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam dan Filsafat Sains, diterjemahkan oleh Saiful Muzani, Bandung: Mizan, 1995

Al-Kalabadzi, Ta’arruf lî Madzhab Ahl at-Tashawwuf, Kairo: ‘Isa al-Bâb al-Halabi, 1960

Al-Qusyairi, Mahmud, Ar-Risâlat al-Qusyairiyah, Kairo: Mathâbi’ Muassasat Dâr asy-Sya’b, 1989

Arberry, A. J., Sufism, An Account of The Mystics of Islam, London: George Allen and Unwin Ltd., 1979

As, Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: Rajawali Press, 1994

Ash-Shafadi, Shalahuddin Khalil bin Aibak, Al-Wâfi bi al-Wafiyât, Beirut: Dâr Ihyâ` at-Turâts al-‘Arabi, 2000

As-Sakandari, Ibnu ‘Atha`illah, Al-Hikam Al-‘Athoiyah, Kairo: Markaz Al-Ahrâm, 1988

As-Sulami, Abu Abdurrahman, Ath-Thabaqâth Ash-Shufiyah, Kairo: Muassasat Dâr Asy-Sya’b, 1998

Ath-Thusi, As-Saraj, Al-Luma’, Ed. Abdul Halim Mahmud, Kairo: Dâr al-Kutub al-Hadîtsah, 1960

Atjeh, Aboebakar, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawwuf, Solo: Ramadhani, 1984

At-Taftazani, Abu al-Wafa` al-Ghanimi, Madkhal ilâ at-Tashawwuf al-Islami, Kairo: Dâr ats-Tsaqâfah, 1979

______, Sufi dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad Rofi’ Utsmani, Bandung: Pustaka, 1997

Hamka, Perkembangan Tasauf dari Abad ke Abad, Jakarta: Pustaka Keluarga, 1952

______, Tasauf Perkembangan dan Permuniannya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993

Ibnu Taimiyah, Majmû’ ar-Rasa`il al-Kubrâ, Kairo: tanpa penerbit, 1323 H

Karamustafa, Ahmet T., Sufism The Formative Period, Edinburgh: Edinburgh University Press, 2007

Khallikan, Abu Abbas Syamsuddin Ahmad, Wafiyât al-A’yân wa Abnâ` Abnâ` az-Zamân, Beirut: Dâr ash-Shâdir, 1978

M. Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2008

Mahmud, Abd al-Qadir, al-Falsafah Al-Shufiyah fî Al-Islâm, Kairo: Dâr al-Fikr al-‘Arabi, 1967

Mahmud, Abdul Halim, Shulthân al-‘Ârifîn Abû Yazîd al-Busthâmi, Kairo: Dâr al-Ma’ârif, tanpa tahun

Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah, Al-Mu’jam Al-Falsafi, Ed. Ibrahim Madkur, Kairo: Al-Hai`at Al-‘Âmmah li Asy-Syu`un al-Mathâbi’ al-Amîriyah, 1983

Majma’ al-Luhghah al-‘Arabiyah, al-Mu’jam al-Wasîth, Kairo: Maktabah asy-Syurûq ad-Dauliyah, 2004

Massignon, Louis, Essay On The Origins Of The Technical Language of Islamic Mysticism, Terj. Inggris Benjamin Clark, Notre Dame, Indiana: University of Notre Dame Press, 1997

Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973

Nicholson, R. A., Fî at-Tashawwuf al-Islami wa Tarikhuhu, Terj. Arab oleh Abu al-‘Ala` ‘Afîfi, Kairo: Lajnah at-Ta`lif wa at-Tarjamah wa an-Nasyr, 1947

Nicholson, R.A., Studies in Islamic Mysticsm, London: Cambridge University Press, 1921

Rahmawati, “Memahami Ajaran Fana, Baqa, dan Ittihad Dalam Tasawuf”, Jurnal Al-Munzir, IAIN Kendari, Vol. 7, no. 2, November 2014

Renard, John, The A to Z of Sufism, Plymouth: The Scarecrow Press, Inc., 2009

Schimmel, Annemarie, Dimensi Mistik dalam Islam, Terj. Sapardi Djoko Damono et. al., Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986

Stace, W. T., Mysticism and Philosophy, London: Macmillan, 1961

Syarif, M. M., A History of Muslim Philosophy, Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1966

Zahri, Mustafa, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Surabaya: Bina Ilmu,1995


Refbacks

  • There are currently no refbacks.